Subscribe:

Pages

BALOGO

Balogo merupakan salah satu nama jenis permainan tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak sampai dengan remaja dan umumnya hanya dimainkan kaum pria.

Nama permainan balogo diambil dari kata logo, yaitu bermain dengan menggunakan alat logo. Logo terbuat dari bahan tempurung kelapa dengan ukuran garis tengah sekitar 5-7 cm dan tebal antara 1-2 cm dan kebanyakan dibuat berlapis dua yang direkatkan dengan bahan aspal atau dempul supaya berat dan kuat. Bentuk alat logo ini bermacam-macam, ada yang berbentuk bidawang (bulus), biuku (penyu), segitiga, bentuk layang-layang, daun dan bundar.

Dalam permainnannya harus dibantu dengan sebuah alat yang disebut panapak atau kadang-kadang beberapa daerah ada yang menyebutnya dengan campa ,yakni stik atau alat pemukul yang panjangnya sekitar 40 cm dengan lebar 2 cm. Fungsi panapak atau campa ini adalah untuk mendorong logo agar bisa meluncur dan merobohkan logo pihak lawan yang dipasang saat bermain.

Permainan balogo ini bisa dilakukan satu lawan satu atau secara beregu. Jika dimainkan secara beregu, maka jumlah pemain yang “naik” (yang melakukan permainan) harus sama dengan jumlah pemain yang “pasang”

(pemain yang logonya dipasang untuk dirobohkan) Jumlah pemain beregu minimal 2 orang dan maksimal 5 orang. Dengan demikian jumlah logo yang dimainkan sebanyak jumlah pemain yang disepakati dalam permainan.

Cara memasang logo ini adalah didirikan berderet ke belakang pada garis-garis melintang. Karenanya inti dari permainan balogo ini adalah keterampilan memainkanlogo agar bisa merobohkan logo lawan yang dipasang. Regu yang paling banyak dapat merobohkan logo lawan, mereka itulah pemenangnya.
balogo.jpg

Sebagai akhir permainan, pihak yang menang disebut dengan “janggut” dan boleh mengelus-elus bagian dagu atau jenggot pihak lawan yang kalah sambil mengucapkan teriakan “janggut-janggut” secara berulang-ulang yang tentunya membuat pihak yang kalah malu, tetapi bisa menerimanya sebagai sebuah kekalahan.

Mamang dalam permainan balogo :

santuk kilan bela (muka) patah cempa sekali lagi

Permainan balogo ini masih populer dimainkan di masyarakat Banjar hingga tahun 80-an. Sampai akhirnya dikalahkan oleh permainan elektronik modern. Sumber



INCAK INCAK ALIS / ULAR NAGA

Apa kabar sahabat? Mungkin nama permainan ini sangat asing di telinga sahabat tapi permainan ini sebebenarnya merupakan versi lain dari permainan Ular Naga. Sekarang sahabat pasti udah tau!! Ya minimal udah bisa ngebayangin.... Selain ada yang menyebut dengan Ancak-ancak Alis juga Ada yang menyebut dengan Incak – Incak Alis. Permainan ini merupakan Jenis permainan tradisional anak-anak yang bersifat rekreatif, yang dalam proses permainannnya menggunkan istilah-istilah yang berhubungan dengan pertanian, ketentuan jumlah pemain dalam permainan ini tidak ada, karena semakin banyak anak-anak yang terlibat dalam permainan ini akan semakin meriah. Tempat permainan dipilih yang luas dan rata.

Cara bermain

pertama-tama semua pemain bersepakat untuk memilih dua orang di antara mereka yang cenderung memiliki kekuatan, ketinggian dan besar badan yang sama untuk mejadi petani. Kedua petani ini segera menyingkir dari kelompok permainan ini untuk berunding mengenai nama-nama yang diambil dari istilah pertanian, missal A memilih nama jagung dan B memilih nama kacang. Kemudian kedua petani berdiri berhadapan dengan kedua tangan diangkat ke atas dan kedua telapak saling ditempelkan sehingga membentuk seperti pintu gerbang. Kedua telapak tangan mereka saling bertepuk tangan sambil menyanyikan ancak-ancak alis. Lirik lagu ini di masing-masing daerah Jawa terjadi perbedaan. Lirik lagu tersebut di wilayah Yogyakarta adalah:

Ancak-ancak alis
si alis kabotan kidang
anak-anak kebo dhungkul
si dhungkul bambang tego
tego rendheng ,enceng-enceng gogo beluk
unine pating jerapluk
ula apa ula dumung
gedhene salumbung bandhung
sawahira lagi apa,wong deso?

Anak-anak yang lain berdiri urut memanjang diawali dari yang terbesar badannya, sambil memegang ujung baju teman yang berada di depannya, lalu berjalan berkeliling. Ketika lagu berakhir pada kata “Sarahira lagi apa, wong desa?”, barisan tersebut berada di samping kedua petani. Pemain yang terdepan menjawab pertanyaan tersebut dengan “lagi ngluku ( sedang membajak)”.

Kemudian kedua petani menyanyikan lagi lagu ancak-ancak alis, dan pemain lainnya mulai berjalan berkeliling lagi. Bila lagu sudah selesai pada akhir kalimat, maka sudah pemain paling depan harus menjawab dengan jawaban nama-nama tahapan dalam menanam padi. Demikian seterusnya berulang-ulang. Ketika mendapat jawaban “lagu wiwit ( baru menuai )’, anak yang paling belakang segera berlari keluar dari barisan untuk mengambil daun-daunan yang berada di sekitar tempat permainan, dan segera menuju ke barisan semula, lalu disusul oleh kedua petani yang berada di barisan paling depan.
Barisan segera berjalan berbelitan membentuk angka delapan sambil menyanyikan :

menyang pasar kadipaten leh olehe jadah manten,
menyang pasar ki jodog, leh olehe Cina bidhung

Setelah itu kedua petani berdiri dengan tangan membentuk terowongan sambil menyanyikan lagu ancak-ancak alis, dan para pemain berdiri dalam satu barisan melewati terowongan tersebut sambil menjawab “lagi panen (sedang panen)”. Anak yang tertangkap terowongan ditanya, “Kali ini akan menanam apa, kacang atau jagung?”. Jika memilih jagung maka harus berada di belakang petani A, dan jika memilih kacang berada dibelakang B (menjadi pengikut si B). Demikian seterusnya hal ini diulang-ulang sampai pada pemain terakhir dalam barisan, petani menyanyikan lagu “dikekuru, dilelemu,dicecenggring,digegiring”.

Kemudian kedua petani mengurung anak tersebut dengan kedua tangannya sambil berkata: “kidang lanang apa wadon, yen lanang mlumpata, yen wadon mbrobosa”. Anak tersebut berusaha keluar, dan diminta memilih salah satu petani. Petani yang mempunyai anak dibelakangnya lebih banyak, dianggap menang. Penentuan menang kalah dapat juga dilakukan dengan cara adu kekuatan, yaitu tarik menarik antara kedua petani dengan dibantu oleh anak semang masing-masing.

Setelah membaca tulisan diatas gimana sahabat? Permainan ancak – ancak Alis nggak kalah asyik kan dengan ular naga!! Kalau di tanya bedanya dengan permainan Ular Naga Cuma pada lagu dan permainan lebih panjang permainan Ancak-ancak Alis.

Di daerah lain ada juga yang diakhiri dengan permainan tarik tambang. setelah semua tertangkap dan terbagi dua berdasarkan pilihan masing masing, maka akan di lanjutkan dengan tarik tambang.

GANGSING / GANGSINGAN

Gangsing adalah sebuah permainan Tradisional yang banyak kita jumpai didaerah perkampungan masa dulu, gabgsing masa kini jauh berbeda dengan dulu, kini terbuat dari plastik yang banyak beredar di pasaran dan lebih mudah memainkannya karena sudah di desain sedemikian rupa. Gasing tradisional tempo dulu terbuat dari bahan kayu. cara pembuatannya cukup mudah namun membutuhkan ketelitian agar menghasilkan panggal yang dapat berbutar dengan seimbang.

Bahan
Gangsing biasanya terbuat dari pohon kayu asam, kayu jambu batu, kayu sawo, kayu mahoni, kayu pete, kayu nangka.Pemain Permainan ini biasanya dimainkan anak laki-laki namun tidak ada larangan bagi anak perempuan untuk bermain tetapi lebih dimonopoli oleh anaklaki-laki. Jumlah anak yang bermain ini biasanya 5 – 10 orang pemain atau lebih, semakin banyak yang bermain akan semakin menarik pula permainan ini.

Arena
Arena permainan gangsing adalah di tanah keras dan padat Dengan ukuran diameter ½ s/d 1 meter berbentuk lingkaran. Peralatan yang digunakan untuk membuat panggal ialah gergaji, golok, pisau, Gergaji digunakan untuk memotong bahan,solok untuk membentuk panggal dan pisau digunakan untuk merapikan bentuk panggal yang dibuat

Sistem permainan
Ada tiga jenis permainan gangsing yang biasanya dimainkan :

A . Angonan
Dalam permainan gangsing angonan ini, setiap peserta yang gangsingnya berputar dan berhenti di dalam lingkaran atau paling dekat dengan ingkaran, anak tersebut dinyatakan kalah. Anak-anak yang lain berusaha untuk memukul gangsing anak yang dinyatakan kalah tadi dengan gangsingnya. Dan berusaha untuk menjauhkan gangsing yang kalah tadi dari lingkaran secara bergilir. Dan yang mempunyai gangsingpun harus pula berusaha untuk memasukkan gangsingnya ke dalam lingkaran. Dan seandainya anak yang kalah tadi berhasil memasukkan gangsingnya ke dalam lingkaran, permainan diulang dari mula. Di sini setiap anak harus membawa gangsing lebih dari satu. Yang satu untuk dipasang dalam lingkaran, gangsing yang lainnya sebagai Gacoannya, dan harus ada persediaan gangsing kalau- kalau gangsingnya rusak. Sumber

B. Cocokan
Main gangsing cocokan berbeda dengan main gangsing angonan. Setiap peserta menaruh gangsing pasangannya di dalam lingkarannya. Setiap pemain berusaha untuk mengeluarkan gangsing mereka masing-masing dengan gangsing gacoannya. Barang siapa gangsing salah seorang peserta tidak keluar dari lingkaran atau keluar dari lingkaran permainan paling akhir, gangsing tersebut dianggap kalah. Sebagai hukumannya, gangsing tersebut (bukan gacoan) dicocok dengan gangsing (berpaku) sampai belah.

C. Ambilan
Main gangsing dengan ambilan ini lain dari permainan gangsing yang telah diuraikan di atas. Dalam permainan ini setiap peserta memasang gangsing satu buah dalam lingkaran (sama seperti angonan dan cocokan). Setelah diadakan undian, peserta yang berhak berjalan terlebih dahulu memperagakan gangsingnya dengan cara memukul gangsingya ke tumpukan gangsingan di dalam lingkaran. Setiap gangsing yang keluar dari lingkaran adalah milik orang yang memukul tadi. Setiap peserta hanya boleh memukul gangsingnya satu kali saja dalam satu putaran.

Cara bermain
Gangsing dimainkan dengan cara melilitkan tali pada paku yang ada pada gasing dan dilemparkan pada arena dengan cara menarik tali tersebut. Tidak ada waktu yang tetap untuk bermain gangsing, artinya bisa dimainkan pada waktu senggang.


GAWANGAN

Gawangan merupakan permainan tradisonal yang menyerupai permainan tradisional betengan. bedanya hanya pada markas atau daerah pertahanannya. kalu betengan berupa tiang sedangkan gawangan berupa gawang. secara garis besar peraturan permainannya sama.

Permainan ini di beberapa daerah seringkali dikenal sebagai rerebonan atau lebonan di daerah jawa barat sedang di daerah lain juga di kenal dengan nama prisprisan, omer, jek-jekan.

Gawangan, adalah permainan yang dimainkan oleh dua kelompok, masing - masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang bahkan bisa lebih. Masing - masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, yang menyerupai sebuah gawang sepak bola tersusun dari batu atau kayu, sebagai 'gawang'.

Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih 'gawang' lawan dengan memasuki gawang lawan, yang Berarti telah memenangkan permainan, kemudian permainan dapat di mulai lagi. Kemenangan juga bisa diraih dengan 'menawan' seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi 'penawan' dan yang 'tertawan' ditentukan dari waktu terakhir saat si 'penawan' atau 'tertawan' memasuki 'Gawang' mereka masing - masing.


SIAPA AKU

pernmainan tradisonal ini beranggotakan banyak. seberapa banyak orang pun bisa. cara memainkannya di awali dengan hompimpa, siapa yang kalah dia yang jaga. kemudian yang menang menentuak apa yang akan di jadikan bahan tebakan. setelah sepakat, seluruh anggota yang menang mendatangi yang jaga sambil mengucapkan kata yang kemudian di sambut oleh yang jaga.

pemain : "permisi tuan rumah"
penjaga : "rumahmu dimana"
pemain : " Disana"
penjaga : " Kerjamu apa"

kemudian pare pemain memperagakan apa yang menjadi bahan tebakan, dan tugas yang jaga adalah menebak apa yang di peragakan, bila tebakan tersebut terjawab, maka si jaga akan mengejar para pemain hingga tertangkap salah satu dari mereka. dan yang tertangkap akan menggantikan jaga berikutnya.



PETAK UMPET

Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing" (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apasaja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi (tempat jaga ini memiliki sebutan yang berbeda di setiap daerah, contohnya di beberapa daerah di Jakarta ada yang menyebutnya INGLO, di daerah lain menyebutnya BON dan ada juga yang menamai tempat itu HONG). Setelah hitungan sepuluh (atau hitungan yang telah disepakati bersama, misalnya jika wilayahnya terbuka, hitungan biasanya ditambah menjadi 15 atau 20) dan setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si "kucing" beraksi mencari teman-temannya tersebut.

Jika si "kucing" menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya sambil menyentuh INGLO atau BON atau HONG, apabila hanya meneriakkan namanya saja, maka si "kucing" dianggap kalah dan mengulang permainan dari awal. Apabila Yang seru adalah, pada saat si "kucing" bergerilya menemukan teman-temannya yang bersembunyi, salah satu anak (yang statusnya masih sebagai "target operasi" atau belum ditemukan) dapat mengendap-endap menuju INGLO, BON atau HONG, jika berhasil menyentuhnya, maka semua teman-teman yang sebelumnya telah ditemukan oleh si "kucing" dibebaskan, alias sandera si "kucing" dianggap tidak pernah ditemukan, sehingga si "kucing" harus kembali menghitung dan mengulang permainan dari awal.

Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.

Ada satu istilah lagi dalam permainan ini, yaitu 'kebakaran' yang dimaksud di sini adalah bila teman kucing yang bersembunyi ketahuan oleh si kucing disebabkan diberitahu oleh teman kucing yang telah ditemukan lebih dulu dari persembunyiannya.



LAYANGAN

Terdapat berbagai tipe layang-layang permainan. Yang paling umum adalah layang-layang hias (dalam bahasa Betawi disebut koang) dan layang-layang aduan (laga). Terdapat pula layang-layang yang diberi sendaringan yang dapat mengeluarkan suara karena hembusan angin. Layang-layang laga biasa dimainkan oleh anak-anak pada masa pancaroba karena biasanya kuatnya angin berhembus pada masa itu.

Di beberapa daerah Nusantara layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu dan diikat dengan serat rotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi. Diduga pula, beberapa bentuk layang-layang tradisional Bali berkembang dari layang-layang daun karena bentuk ovalnya yang menyerupai daun.

Di Jawa Barat, Lampung, dan beberapa tempat di Indonesia ditemukan layang-layang yang dipakai sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu, dan dihubungkan dengan mata kail. Di Pangandaran dan beberapa tempat lain, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkapkalong atau kelelawar.

Penggunaan layang-layang sebagai alat bantu penelitian cuaca telah dikenal sejak abad ke-18. Contoh yang paling terkenal adalah ketika Benjamin Franklin menggunakan layang-layang yang terhubung dengankunci untuk menunjukkan bahwa petir membawa muatan listrik.

Layang-layang raksasa dari bahan sintetis sekarang telah dicoba menjadi alat untuk menghemat penggunaan bahan bakar kapal pengangkut. Pada saat angin berhembus kencang, kapal akan membentangkan layar raksasa seperti layang-layang yang akan "menarik" kapal sehingga menghemat penggunaan bahan bakar.



PATIL LELE / BENTIK

patil lele atau dengan nama lain yaitu tak kadal, Gatrik atau juga di kenal dengan nama benthik di daerah sekitar yogyakarta, jawa tengah. Pada masanya pernah menjadi permainan yang populer di Indonesia. Merupakan permainan kelompok, terdiri dari dua kelompok.

Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh diantara dua batu atau di atas lubang (luwokan) harus dipersiapkan di atas tanah lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir.

Biasanya setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan makin lelah menggendong.


BAS BASAN

Permainan tradisional yang menggunakan bidang petak-petak semacam papan catur, yang disebut Bas-basan atau ada juga yang menyebut dengan nama dham-dhaman. Petaknya dapat di gambar di atas tanah, tegel atau yang lain. Bentuk petaknya seperti gambar. Dalam satu petak di bagi untuk dua pemain.yang di butuhkan dalm permainan ini selain gambar petak juga diperlukan biji, kerikil atau yanglainya tetapi antara dua pemain tersebut tidak boleh sama agar dapat di bedakan mana milik si A dan mana milik si B (misalnya pemain A menggunakan batu kerikil dan pemain B menggunakan biji asam). Jumlah yang di butuhkan oleh setiap pemain adalah 16 biji.



Cara bermainnya

masing-masing prajurit bergerak maju untuk menyerang daerah lawan, dengan arah jalan ke depan, ke kanan, dan ke kiri, dan mundur pokoknya bebas tapi Cuma boleh satu langkah. Cara membunuh prajurit lawan dengan melompatinya, dan menempati tempat yang kosong. Prajurit yang dilompati berarti mati dan dikeluarkan dari daerah permainan. dan bila salah satu pemain tidak mengetahui kalu di pancing atau diberikan umpan (kesempatan mematikan lawan dengan melompati) maka di kenakan hukuman atau istilahnya bas dan hukumannya dalah di ambil 3 buah pionnya, terserah yang mana saja sesuai keinginan lawan dan tidak bisa menolak. jika salah satu pemain pionnya tinggal 2 atau pun 1, di beri kebebasan melewati garis lebih dari satu langkah asalkan satu garis lurus (tidak boleh berbelok). Bila salah satu kubu prajuritnya habis, berarti kalah. Biasanya permainan ini akan di mulai lagi.


KASTI

Kasti atau Gebokan merupakan sejenis olahraga bola. Permainan yang dilakukan 2 kelompok ini menggunakan bola tenis sebagai alat untuk menembak lawan dan tumpukan batu untuk disusun. Siapapun yang berhasil menumpuk batu tersebut dengan cepat tanpa terkena pukulan bola adalah kelompok yang memenangkan permainan. Pada awal permainan, ditentukan dahulu kelompok mana yang akan menjadi penjaga awal dan kelompok yang dikejar dengan suit. Kelompok yang menjadi penjaga harus segera menangkap bola secepatnya setelah tumpukan batu rubuh oleh kelompok yang dikejar. Apabila bola berhasil menyentuh lawan, maka kelompok yang anggotanya tersentuh bola menjadi penjaga tumpukan batu. Kerjasama antaranggota kelompok sangat dibutuhkan seperti halnya olahraga softball atau baseball.

Versi lain permainan kasti yang banyak dimainkan anak anak sekolah dasar: pemain dibagi dua regu, salah satu mendapat giliran jaga dan satu regu lagi mendapat giliran untuk memukul. Disediakan beberapa pos yang ditandai dengan tiang dimana pemain serang (yang mendapat giliran pukul) tak boleh di"gebok" atau dilempar dengan bola. Pemain serang bergiliran memukul bola yang diumpan oleh salah seoarng pemain jaga. Pemain jaga berjaga dilapangan untuk mencoba menangkap pukulan pemain serang. Ketika bola terpukul pemain serang berlari ke pos berikut atau "pulang" ke "rumah" yang dibatasi dengan sebuah garis. Kalau pemain yang sedang lari menuju pos atau pulang dapat di"gebok" dia dinyatakan mati dan kedua regu berganti - regu serang jadi regu jaga dan sebaliknya. Pemain serang yang berhasil pulang mendapat satu angka. Regu yang mendapat angka terbanyak ketika pertandingan berakhir dinyatakan menang. Permainan ini memang menggunakan gerak dasar berlari, memukul bola dengan sebuah tongkat, menangkap dan melempar. Terdiri dari 2 base dengan jarak minimal 20 meter.


EGRANG

egrang merupakan permainan tradisonal yang sekarang dilupakan, hanya sedik anak jaman sekarang yang mengenalnya, Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang belum diketahui secara pasti dari mana asalnya, tetapi dapat dijumpai di berbagai daerah dengan nama berbeda-beda seperti : sebagian wilayah Sumatera Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Egrang sendiri berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang. Dalam bahasa Banjar di Kalimantan Selatan disebut batungkau.


Egrang terbuat dari batang bambu atau bisa juga menggunakan kayu dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Sekitar 50cm dari bawah, dibuat tempat berpijak kaki yang rata dengan lebar kurang lebih 20cm.


Lomba Egrang

Cara memainkannya adalah dengan berlomba berjalan menggunakan egrang tersebut dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya. Orang yang paling cepat dan tidak terjatuh dialah pemenangnya.


GOBAK SODOR

Masih ingatkah anda permainan gobak sodor?
Kenapa disebut gobak sodor mungkin karena permainan ini maju mundur melalui pintu-pintu. Dalam bahasa Belanda istilah gobak Sodor mungkin artinya sama dengan kata dalam Bahasa Inggris “Go Back Through the Door”, sebagian menyebutnya Galasin, bisa saja adaptasi bahasa dari bahasa Belanda yang kalau di Bahasa Inggriskan menjadi “Go Last In”, sayangnya kata-kata tersebut hanya rekaan rekayasa saja, jadi jangan ditanya kebenarannya.

Remaja sekarang mungkin tidak familiar dengan jenis permainan ini, karena selain tidak ada pialanya permainan ini perlu beberapa orang yang mengikutinya. Garis-garis penjagaan dibuat dengan menyerupai lapangan bulu tangkis, bedanya tidak ada garis yang rangkap.
Gobak sodor terdiri dari dua tim, satu tim terdiri dari tiga orang bahkan bisa lebih. Aturan mainnya adalah mencegat lawan agar tidak bisa lolos ke baris terakhir secara bolak-balik. Untuk menentukan siapa yang juara adalah seluruh anggota tim harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Anggota tim yang mendapat giliran “jaga” akan menjaga lapangan , caranya yang dijaga adalah garis horisontal dan ada juga yang menjaga garis batas vertikal. Untuk penjaga garis horisontal tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi seorang yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal maka tugasnya adalah menjaga keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.

Permainan ini sangat menarik, menyenangkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan. Kalau kita sudah lepas dari garis batas terakhir kita menjadi bebas merdekaa.. inilah yang kita tuju..